Hallo semua! waah udah lama ga update di blogger nih. Oke langsung aja postingan kali ini akan mengupas pengalaman saya tentang pembuatan paspor yang rasanya agak menyebalkan -.-
Berawal dari saya coba-coba mengikuti sebuah kompetisi yang ngadain orang Jerman (cek aja www.youthinkgreen.org). Setelah awal pengumuman, saya hanya masuk dalam waiting list (di ruang tunggu). Seminggu kemudian saya mendapat pemberitahuan bahwa saya diterima. Karena belum punya paspor, guru saya menyuruh saya untuk membuatnya terlebih dahulu. Akhirnya saya izin sekitar 11 hari untuk pulang mengurus paspor.
Jumat, 19 April 2013
Sabtu, 02 Februari 2013
Solo Camp
wah ini blog udah banyak debunya gini... hahaha wajar lah kan ngga pernah diurus lagi... bingung juga mau nulis apa di blog ini... oke lah, akan kucoba nulis di blog ini setidaknya sebulan sekali deh... heheh kata guru aku, kita harus sering-sering ngepost di blog soalnya bisa aja nanti pas kuliah ditanyain "apa yang udah kamu lakukan di SMA?" makanya guruku bilang suruh nulis kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah.
Okey, aku akan cerita dikit tenteng sebelum liburan nalat kemarin (wah udah lama banget yaaa)... gini ceritanya...
Jadi sekolahku itu ngadain Solo Camp untuk anak kelas XI, kalo anak kelas X Leadership Camp yang udah pernah kujelasin di blog ini. Kalo ga salah Solo Camp angkatanku dimulai tanggal 14-16 Desember 2012. Kami berangkat menggunakan kendaran dari TNI (entah apa namanya, pokoknya kayak truck gitu lah). Dan itu aku belum tahu mau dibawa kemana kami semua. Bocorannya sih di Gunung Batu. Di pikiranku pas itu, yang namanya di Gunung Batu itu ya kayak di Puncak gitu... Dan pas tiba di sana, yang pertama kali kucari adalah gunung. Di mana gunungnya? Dan ternyata itu nama jalan. Memang sih ada gunungnya, tapi katanya jauh banget...
Selanjutnya, perasaanku udah ga enak, kayak mau dikerjain sama pelatih gitu (wajar, pelatihnya TNI AD). Oya, itu di Markas Yonif Batalyon 315/Garuda (kalau ga salah namanya itu).
Benar dugaan saya, sampai malam kami belum dapat jatah makan. dan pas waktu makan, dikerjain abis-abisan deh.
Karena tendanya tidak cukup untuk menampung siswa laki-laki (tendanya cuma ada dua, tapi yang gede gitu), akhirnya tersisa lima orang yang harus tidur di tenda bareng guru, termasuk aku heheh....
Paginya kegiatan aneh-aneh ala TNI, keras, disiplin, dibentak, dihukum, dan segala macam. Yang masih kuingat sampai saat ini adalah, sarapannya berputar, terus lauknya di remes-remes pake tangan temen, terus nasinya dicampur air. Ga ngebayangin kayak apa itu rasanya. Tapi ya memang harus di makan.... Kegiatan selesai seharian capek banget. Apalagi pas ke hutan gitu. Lupa nama hutannya apa. Kalau ga salah sih Hutan Lindung IPB. Di situ sih kami di hutan karet. Dan di sini aku baru belajar kalau TNI tuh masaknya pake misting. Laaaapeeerrr baanget. Dan makanannya harus berbagi sama anak Lion. Dan yang bikin cape adalah lari dari itu hutan sampe markas TNI tadi, pulang pergi lagi....
Puncak kegiatan yang (katanya) paling serem adalah jurit malam. Jurit malam? Di pikiranku jurit malam itu bakal di kuburan dan suruh ngampil tali dari kuburan. Ternyata tidak. Malah menurutku kegiatannya krik-krik banget. Ada pocong jadi-jadian sih, tapi sama sekali ga serem..... Dan itu selesainya jam 1an malam....
Eits, malam itu belum selesai. Masih lanjut buat performance tiap house. Setelah performance, baru deh api unggun. Selesai, tidur. Bangun jam 5. Tidur apaan coba?
Hari terakhir. Hari terakhir tak sekejam hari-hari sebelumnya. Justru anak-anak malah pada tergila-gila sama pelatih. Kalau aku mah tidak. Ga bakal dah. Yah, kegiatannya cuma out bond. Cuma? Ga cuma aja ya, masih banyak kegiatan yang bikin ngeselin.
Upacara penutupan. Lamaaaaa banget. Tapi akhirnya aku dapat pin Solo Camp dong... hehehe
Selesai penutupan, shalat dan coret-coret muka, joget-joget, gila-gilaan bersama pelatih, guru, dan semua teman-temanku. Satu hal yang bikin aku inget, "AKU TIDAK PERNAH MANDI SELAMA SOLO CAMP"
Pas udah pulang, nyampe kampus jam 10 malam, langsung mandi, dan tidur.
Itulah cerita Solo Camp-ku. Mungkin udah tahu sendirilah pelajaran apa yang dapat diambil dari kegiatan itu....
Okey, aku akan cerita dikit tenteng sebelum liburan nalat kemarin (wah udah lama banget yaaa)... gini ceritanya...
Jadi sekolahku itu ngadain Solo Camp untuk anak kelas XI, kalo anak kelas X Leadership Camp yang udah pernah kujelasin di blog ini. Kalo ga salah Solo Camp angkatanku dimulai tanggal 14-16 Desember 2012. Kami berangkat menggunakan kendaran dari TNI (entah apa namanya, pokoknya kayak truck gitu lah). Dan itu aku belum tahu mau dibawa kemana kami semua. Bocorannya sih di Gunung Batu. Di pikiranku pas itu, yang namanya di Gunung Batu itu ya kayak di Puncak gitu... Dan pas tiba di sana, yang pertama kali kucari adalah gunung. Di mana gunungnya? Dan ternyata itu nama jalan. Memang sih ada gunungnya, tapi katanya jauh banget...
Selanjutnya, perasaanku udah ga enak, kayak mau dikerjain sama pelatih gitu (wajar, pelatihnya TNI AD). Oya, itu di Markas Yonif Batalyon 315/Garuda (kalau ga salah namanya itu).
Benar dugaan saya, sampai malam kami belum dapat jatah makan. dan pas waktu makan, dikerjain abis-abisan deh.
Karena tendanya tidak cukup untuk menampung siswa laki-laki (tendanya cuma ada dua, tapi yang gede gitu), akhirnya tersisa lima orang yang harus tidur di tenda bareng guru, termasuk aku heheh....
Paginya kegiatan aneh-aneh ala TNI, keras, disiplin, dibentak, dihukum, dan segala macam. Yang masih kuingat sampai saat ini adalah, sarapannya berputar, terus lauknya di remes-remes pake tangan temen, terus nasinya dicampur air. Ga ngebayangin kayak apa itu rasanya. Tapi ya memang harus di makan.... Kegiatan selesai seharian capek banget. Apalagi pas ke hutan gitu. Lupa nama hutannya apa. Kalau ga salah sih Hutan Lindung IPB. Di situ sih kami di hutan karet. Dan di sini aku baru belajar kalau TNI tuh masaknya pake misting. Laaaapeeerrr baanget. Dan makanannya harus berbagi sama anak Lion. Dan yang bikin cape adalah lari dari itu hutan sampe markas TNI tadi, pulang pergi lagi....
Puncak kegiatan yang (katanya) paling serem adalah jurit malam. Jurit malam? Di pikiranku jurit malam itu bakal di kuburan dan suruh ngampil tali dari kuburan. Ternyata tidak. Malah menurutku kegiatannya krik-krik banget. Ada pocong jadi-jadian sih, tapi sama sekali ga serem..... Dan itu selesainya jam 1an malam....
Eits, malam itu belum selesai. Masih lanjut buat performance tiap house. Setelah performance, baru deh api unggun. Selesai, tidur. Bangun jam 5. Tidur apaan coba?
Hari terakhir. Hari terakhir tak sekejam hari-hari sebelumnya. Justru anak-anak malah pada tergila-gila sama pelatih. Kalau aku mah tidak. Ga bakal dah. Yah, kegiatannya cuma out bond. Cuma? Ga cuma aja ya, masih banyak kegiatan yang bikin ngeselin.
Upacara penutupan. Lamaaaaa banget. Tapi akhirnya aku dapat pin Solo Camp dong... hehehe
Selesai penutupan, shalat dan coret-coret muka, joget-joget, gila-gilaan bersama pelatih, guru, dan semua teman-temanku. Satu hal yang bikin aku inget, "AKU TIDAK PERNAH MANDI SELAMA SOLO CAMP"
Pas udah pulang, nyampe kampus jam 10 malam, langsung mandi, dan tidur.
Itulah cerita Solo Camp-ku. Mungkin udah tahu sendirilah pelajaran apa yang dapat diambil dari kegiatan itu....
Senin, 05 November 2012
Tawuran Antar Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?
Akhir-akhir
ini banyak sekali media massa yang mengabarkan tentang tawuran antar pelajar.
Bahkan berita tentang tawuran dapat kita saksikan hampir setiap hari di
televisi. Mulai dari tawuran yang biasa sampai sampai yang memakan korban jiwa.
Mulai dari remaja di kota-kota besar, seperti Jakarta, sampai di banyak daerah
di Indonesia. Nyaris memang. Siswa yang seharusnya mempunyai kewajiban untuk belajar,
malah menyeleweng dari aturan. Misalnya beberapa waktu lalu, kita dihebohkan
oleh berita tawuran yang dilakukan oleh siswa SMAN 6 Jakarta dan SMAN 70
Jakarta. Tawuran tersebut mengakibatkan tewasnya seorang pelajar kelas X SMAN 6
Jakarta, Alawy Yusianto Putra, tewas akibat luka sabetan benda tajam di bagian
dadanya. Hebohnya lagi, Alawy tidak terlibat dalam tawuran tersebut, ia hanya
menjadi korban tawuran. Tak hanya itu saja. Masih banyak berita tawuran yang
kerap dilakukan oleh para pelajar. Bermodalkan rasa dendam atau cemburu dengan
lawannya, para pelajar nekad melakukan tawuran. Tak banyak dari mereka yang
membawa senjata tajam seperti sabit dan golok. Nyarisnya lagi, selain siswa
SMA, siswa SMP pun juga sering melakukannya. Hal seperti itu seharusnya tidak
terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Apa jadinya kalau generasi penerus
bangsa yang seharusnya belajar malah tawuran? Apa negara Indonesia mau dianggap
negara yang brutal akibat ulah pemudanya? Sedangkan kita tahu bahwa masa depan
bangsa ada di tangan pemudanya.
Sebenarnya
banyak sekali hal-hal yang memengaruhi tawuran ini terjadi. Umumnya para
pelajar ini adalah dari sekolah yang biasa dianggap musuh bebuyutan. Musuh
bebuyutan ini bukan berarti sejak zaman dahulu sudah menjadi musuh, tapi para
siswanya saja yang menganggap musuh mereka sendiri. Di hatinya sudah tertanam
sikap balas dendam dan tidak menyukai siswa dari sekolah yang mereka anggap
musuh. Mungkin bisa jadi pemikiran ini muncul dari senior-senior mereka. Jadi,
generasi penerus di sekolahnya mempunyai pandangan terhadap sekolah mana yang
menjadi musuh mereka. Hal ini yang menjadi dasar permasalahan antar ‘peserta’
tawuran. Selanjutnya, asmara juga menjadi sebab dari tawuran. Kita ibaratkan
saja seorang siswa di sekolah A dan di sekolah B menyukai siswi yang sama di
sekolah lain. Tentu mereka akan bertanding untuk merebutkan siswi tersebut.
Jika salah satu dari mereka berhasil mendapatkannya, misalkan siswa di sekolah
A, tentu siswa satunya tidak akan terima. Siswa tersebut akan beranggapan bahwa
ia lebih rendah dari saingannya dan martabatnya akan turun. Secara tidak
langsung pula, siswa yang kalah dalam kompetisi itu akan dipanas-panasi oleh
sang pemenang. Semakin panaslah siswa yang kalah tersebut. Lalu mereka
mencaritakan hal tersebut kepada gengnya. Sudah pasti teman satu gengnya
tersebut akan membantunya. Salah satu cara mereka membantunya adalah dengan
cara tawuran. Mereka akan dianggap gentle
jika berani melakukan tawuran. Padahal sebenarnya, tawuran adalah budaya
pengecut. Tawuran adalah budaya orang primitif. Selain itu, para pelajar
umumnya masih remaja. Mereka masih dalam proses pendewasaan. Tingkat emosional
mereka masih labil. Karena masih labil dan belum bisa mengendalikan emosi,
mereka akan mudah marah. Kehidupan keluarga juga berpengaruh dalam masalah ini.
Anak yang merupakan hasil broken home
atau kurang kasih sayang orang tua kebanyakan akan mencari pelampiasan yang
menurut mereka nyaman. Alhasil, mereka akan bergabung dengan geng-geng nakal di
sekolah yang bisa memengaruhi mereka sendiri.
Dari
berbagai kasus tawuran yang sering terjadi, hukuman pasti akan diberikan bagi
para pelakunya. Entah itu hukuman berat atau ringan, yang jelas akan
mendapatkan ganjaran yang setimapal. Rata-rata remaja yang melakukan tawuran
selalu merusak fasilitas umum dan mengganggu kenyamanan orang lain. Oleh sebab
itu tak heran jika banyak polisi yang mengamankannya. Sekolah yang bersangkutan
biasanya juga menghukum para siswanya. Mulai dari diskors, samapi dikeluarkan
dari sekolah (drop out). Hal itu
dibuat agar siswanya jera terhadap apa yang telah mereka lakukan. Akhir-akhir
ini bahkan ada siswa yang harus berurusan dengan polisi dan masuk dalam sel
tahanan karena telah melanggar undang-undang, dimana dalam tawuran tersebut
menewaskan korban yang tak ikut campur.
Lalu,
siapakan yang seharusnya bertanggung jawab dalam kasus seperti itu? Sebenarnya
kita semua harus bertanggung jawab dalam menangani masalah tersebut. Guru
sebagai pembimbing, sudah seharusnya membimbing siswa dan terus mengawasinya
selama para siswa di sekolah. Tidak hanya itu, di era yang modern ini, para
guru juga harus mengontrol siswanya melalui social
network seperti facebook dan twitter.
Para guru harus sesegera mungkin mencegah penyebab terjadinya tawuran. Dengan
begitu, tawuran yang akan dilakukan oleh para muridnya akan bisa dicegah.
Selain para guru, sekolah juga harus bertanggung jawab dengan memberikan
seminar-seminar tentang tawuran atau memberikan hukuman bagi siswa yang
terlibat tawuran. Orang tua juga sudah seharusnya wajib dalam mengawasi
putra-putrinya. Ini dapat dilakukan dengan cara yang sama, yaitu mengawasinya
setiap saat. Dengan begitu, orang tua akan tahu bagaimana sikap anak mereka.
Orang tua juga harus memberikan perhatian yang lebih terhadap anak-anaknya.
Mungkin saja penyebab tawuran adalah kurangnya kasih sayang den perhatian orang
tua terhadap anaknya. Pemerintah melalui kepolisisan dan dinas pendidikan juga
bertanggung jawab atas hal tersebut. Dinas pendidikan atau instansi lain bisa
membuat program-progam pencegahan tawuran. Sedangkan polisi bisa membubarkan
pelajar yang terlibat tawuran. Terakhir, media massa yang juga harus
bertanggung jawab. Media massa adalah elemen penting dalam kasus tawuran antar
pelajar. Media massa akan terus mengabarkan berita-berita yang ter-update.
Apakah
semua sudah bertanggung jawab? Kalau sudah, mengapa masih banyak tawuran?
Bukankan ini salah pemerintah? Bukankah ini salah siswa itu sendiri? Bukankan
ini salah media massa yang terus mengabarkan berita-berita tawuran?
Kita tidak seharusnya
menyalahkan satu sama lain. Kita juga tidak mudah memang menyelesaikan masalah
ini kalau satu sama lain tidak ikut bertanggung jawab. Lho, bukankah ini salah pemerintah karena tidak mengajarkan budi
pekerti terhadap generasi mudanya? Memang begitu, namun pemerintah pasti punya
alasan lain mengapa pelajaran budi pekerti dihapuskan. Ini mungkin bukan
dihapuskan, karena pelajaran budi pekerti sudah seharusnya menjadi praktek
dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya teori. Kalau begitu ini salah media
massa dong karena terus mengabarkan
berita seperti itu? Tidak. Sekarang telah ada kebebasan pers dan kebebasan
berpendapat. Jadi wajar saja kalau banyak berita dan opini publik yang muncul
di layar televisi. Untuk itu, kita sebagai masyarakat yang sebangsa sudah
selayaknya jangan saling menyalahkan sama sini. Jangan mencari tahu siapa yang
salah dan siapa yang benar. Masalah seperti ini haruslah diselesaikan bersama.<a href="http://www.indonesiaberkibar.org"><img src="http://indonesiaberkibar.org/sites/all/themes/images/GIB-1.jpg" style="width: 400px; height: 400px;" /></a>
Minggu, 28 Oktober 2012
MENJADI GURU YANG MENYENANGKAN
Guru mempunyai peranan
penting dalam proses pembelajaran. Maka tak heran jika guru juga sebagai kunci
keberhasilan seorang siswa dalam pemahaman materi. Biasanya, siswa mengikuti
apa yang dikatakan oleh guru, meniru apa yang dilakukan oleh guru, dan
melaksanakan apa yang diperintahkan oleh guru. Untuk itu, menjadi seorang guru
haruslah berhati-hati, terutama menjadi guru SD atau TK. Anak kecil masih belum
tahu mana yang baik dan mana yang benar. Disitulah peranan guru dalam proses
pembelajaran. Dalam usia siswa yang masih kecil, mereka harus dididik menjadi pribadi
yang baik dan berakhlak. Para pendidik itulah yang membentuk karakter si anak,
termasuk guru. Tidak hanya torfokus dalam tingkat TK atau SD saja, untuk
tingkat SMP dan SMA, atau bahkan kuliah, peran dan tanggung jawab seorang guru
semakin berat. Para pelajar tingkat menengah ini rata-rata masih remaja, yaitu
proses transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Umumnya meraka masih mempunyai
emosional yang labil. Mereka masih mencari jati diri mereka itu seperti apa.
Mereka juga tidak suka diatur atau dikekang-kekang. Selain peranan orangtua, keluarga, dan teman,
peran guru juga sangat penting. Para guru akan selalu lebih berhati-hati dalam
menyikapi tingkah laku remaja. Dalam proses pembelajaran sendiri, para guru
haruslah mengerti dan memahami keinginan dan kemauan remaja saat ini. Jadi,
antara guru dan murid akan mendapatkan hal yang diinginkan.
Para
siswa yang umumnya sedang menempuh pendidikan menengah (SMP/SMA), biasanya
mempunyai keluhan dalam proses pembelajaran di sekolah. ‘Males
ah, gurunya killer’, itu mungkin sudah menjadi respon yang umum di kalangan
remaja ketika berhadapan dengan guru yang killer
atau suka marah-marah. Dalam banyak film atau sinetron di negeri ini, guru yang
killer biasanya digambarkan dengan
wajahnya yang menyeramkan, menggunakan kacamata, tak pernah senyum, dan lain
sebagainya. Mungkin itu semua benar. Apalagi saat mengajar, sang guru
menggunakan nada orang yang seperti marah-marah, itu menambah kemalasan para
siswa untuk belajar dengan guru tersebut. Pada umumnya, tak ada guru yang
berharap menjadi guru killer.
Semuanya menginginkan menjadi seorang guru yang disegani para siswanya dan
mudah dalam menyampaikan materi. Tapi, biasanya itu adalah watak guru itu
sendiri.
Walau
hampir sama dengan guru killer, tipe
guru yang satu ini cenderung tidak suka membuat kemarahan, tapi membuat suasana
jadi membosankan. Ya, guru yang tergabung dalam ‘kasta’ ini mempunyai teaching
style´yang membosankan alias membuat suasana jadi tidak mendukung untuk
belajar. Mereka biasanya datang ke kelas, kemudian menjelaskan (dibaca membaca)
materi yang ada di buku. Setelah selesai, mereka akan memberi tugas kepada para
siswanya. Karena para siswanya sudah mempunyai LKS (Lembar Kerja Siswa), guru
tersebut hanya menyuruh mengerjakan bab sekian sampai bab sekian; bab ini
sampai bab itu. Sementara para siswa mengerjakan apa yang diperintah, guru
tersebut pergi dari kelas, atau bahkan pergi dari sekolah. Tapi biasanya pergi
ke kantin dengan alasan lapar. Setelah selesai, guru tersebut kembali ke kelas
dan mengoreksi pekerjaan siswa. Hal seperti itulah yang terkadang membuat
sebagian siswa malas belajar. Mereka malas karena materi yang disampaikan belum
masuk ke otak, tapi sudah dikasih tugas lagi.
Ada
langit pasti ada bumi. Nah, kalau ada guru yang menyebalkan dan membosankan,
pasti ada guru yang membuat bersemangat dan menyenangkan dalam belajar. Guru
yang seperti ini pasti banyak diinginkan oleh semua siswa. Mereka cenderung
menjadikan murid sebagai subjek (pelaku dalam proses pembelajaran). Jadi, tidak
lagi menggunakan metode yang tradisional/ketinggalan zaman, yang mana guru
hanya menyuapkan materi atau guru yang menjadi subjek pembelejaran. Selain itu,
mereka pasti mempunyai ribuan macam cara untuk membuat peserta didiknya tidak
mengantuk saat pelajaran. Karena mereka yakin kalau siswa senang dalam belajar,
para siswa akan mudah menangkap materi dan akan lebih mudah untuk mencapai
target yang diinginkan. Cara yang mereka lakukakan untuk mengobati rasa kantuk
yaitu dengan mengajak belajar ke luar ruangan, mengajak diskusi antar siswa,
memberikan model peraga, atau bahkan mengajak bernyanyi. Mereka juga tidak
ingin memberikan tugas yang monoton, seperti mencatat buku. Seperti yang
disebutkan di atas, mereka mempunyai ribuan cara untuk ‘membunuh’ rasa kantuk,
jadi mencatat bisa diganti dengan membuat sebuah mindmap. Sebetulnya masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh guru
yang aktif seperti ini dalam menanggulangi kebosanan para siswa.
Untuk
menjadi guru yang menyenangkan bagi siswanya tidaklah mudah. Apalagi untuk guru
yang tergolong killer. Mereka harus
memulainya dari hal yang paling kacil. Setiap guru sebaiknya memahami apa yang
diinginkan oleh para siswanya. Kalau siswa TK dan SD, tentu maunya bermain.
Sedangkan untuk siswa SMP/SMA, mereka mungkin menginginkan sebuah kebebasan.
Kebebasan di sini dalam arti tidak mau dikekang dan bisa mengeskspresikan
keinginannya. Walau begitu, guru harus terus mengawasinya. Setelah mengerti
keinginginan para muridnya, sesekali buat cara mengajar menjadi apa yang
diinginkan. Misalnya, membuat sebuah permainan anak SD yang ada kaitannya
dengan pelajaran di kelas. Tidak hanya itu saja. Para guru harus rela
mengorbankan waktu luangnya untuk membuat sebuah alat peraga atau semacamnya.
Sehingga nantinya, siswa tidak hanya berpatok pada buku saja, yang terkadang
susah untuk dipahami. Dengan adanya alat peraga, siswa akan lebih mudah dalam
mempelajarinya. Selanjutnya, guru harus sering membuat tugas dalam kelompok,
agar beban siswa tersebut tidak terlalu berat. Bisa juga dalam sebuah kelompok
membuat sebuah mindmap yang nantinya
dipresentasikan ke depan kelompok lain. Jauhi juga tugas-tugas yang berhubungan
dengan mencatat, karena sebagian siswa susah untuk menghafal catatannya. Dan
yang paling penting, saat pelajaran berlangsung, sering-sering juga memberi
pertanyaan kepada para siswa. Dengan demikian, para siswa akan lebih mudah
dalam memahami materi yang disampaikan.
Guru
yang killer itu tidak disenangi oleh
kebanyakan siswa. Demikian juga dengan guru yang membuat suasana kelas jadi membosankan.
Itu semua akan menghambat siswa dalam belajar. Umumnya siswa menyukai guru yang
tidak monoton dan tidak tradisional. Kalau seorang guru membuat suasana aktif
di kelas, para siswa mungkin akan lebih mudah menerima materinya. Kalau siswa
mudah menerima dan memahami materi, hal tersebut akan membuat target guru dan
siswa menjadi lebih mudah dicapai. Jadi, metode belajar yang dimiliki oleh guru
akan berdampak pada pemahaman siswa itu sendiri.
http://indonesiaberkibar.org/sites/all/themes/images/GIB-2.jpg
Jumat, 26 Oktober 2012
CERITA PENGALAMAN : GURU NGAJIKU
Saya tinggal di sebuah desa yang jauh dari Kota Palembang - Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan. Jaraknya yang sekitar 200 km membuat anak-anaknya tidak terlalu terpengaruh terhadap kemajuan zaman (pada waktu itu). Ketika saya masih SD, masih begitu banyak permainan tradisional yang dimainkan oleh saya dan teman-teman saya. Begitu juga dengan pelajaran agama. Saya harus ditanamkan pendidikan agama oleh orang tua saya. Begitu pun dengan taman-teman saya.
Seperti layaknya di daerah-daerah lain di Indonesia, mata pencaharian masyarakatnya sebagian besar bertani. Mungkin hanya beberapa orang yang menjadi guru atau wiraswasta, termasuk ayah saya yang seorang guru SD. Namun mereka semua mempunyai pendirian yang sama – membekali anak-anaknya dengan ilmu agama. Tidak mengherankan jika sejak SD, bahkan TK, tiap sore banyak anak-anak yang mengaji. Anak-anak biasanya berangkat bersama menggunakan sepeda, sekitar pukul tiga sore. Ya, memang sebagian masyarakat di daerah saya beragama islam. Maka dari itu, di sana sangat mudah mencari mushala, masjid, bahkan pondok pesantren sekalipun.
Saat kelas I sampai dengan kelas III SD, saya termasuk anak yang bandel dalam urusan mengaji (belajar membaca Al-Quran). Saya sering berpindah-pindah TPA (Taman Pendidikan Al-Quran, tempat anak-anak belajar mengaji). Saya juga sering dimarahi oleh orang tua saya gara-gara saya sering absen atau malas mengaji. Itu semua karena saya tidak menemukan tempat yang cocok untuk belajar mengaji. Semua TPA mempunyai sistem yang tak beda jauh, dimana guru hanya menyimak murid-muridnya membaca Iqro (buku khusus untuk belajar membaca Al-Quran), kemudian hafalan doa sehari-hari. Karena ayah saya ingin agar saya cepat bisa membaca Al-Quran dengan lancar, ayah saya memutuskan agar saya belajar private. Belajar private di sini bukan berarti guru datang ke rumah dengan bayaran yang bisa di bilang wah, tapi saya sendiri yang datang ke rumah guru ngaji saya.
Namanya adalah Ust. Mustofa. Beliau adalah tetangga saya, walaupun rumahnya tak begitu dekat dengan rumah saya. Setahu saya, beliau adalah petani biasa. Namun beliau juga mengajar di pesantren dekat rumahnya. Wajar saja, Ust. Mustofa pernah belajar di salah satu pesantren yang ada di Pulau Jawa cukup lama, jadi pengetahuan agamanya sangat luas.
Mulai kelas IV SD, sekitar tahun 2005, saya mulai belajar mengaji dengan Ust. Mustofa. Dengan mengendarai sepeda, tiap malam saya datang ke rumahnya. Itu semua karena perintah ayah saya agar saya bisa membaca Al-Quran, bahkan mendalaminya. Ya, karena tak ada siswa lain, saya hanya sendirian. Di ruangan mungkin hanya ada Ust. Mustofa, Bu Itis (istrinya), Ima (anak sulungnya), dan saya. Saya berangkat sesudah Maghrib dan pulang sebelum Isya’. Walau belajarnya tak lebih dari satu jam, namun lebih efiseian karena jumlah siswanya yang hanya satu, bisa dibilang anak tunggal. Dan saya masih ingat betul ketika pertma kali Ust. Mustofa mengajarkan saya membaca surat Al-Fatihah – surat pertama dalam Al-Quran. Waktu itu saya akui kalau saya masih cacat dalam membaca Al-Quran. Perlahan-lahan saya mulai nyaman belajar mengaji di sana.
Setiap bulan siswanya selalu bertambah. Ini karena saya selalu mengajak teman-teman saya untuk ikut ngaji bersama di sana. Semakin hari terus semakin bertambah. Bukan hanya anak SD yang mengaji di sana, anak SMP pun juga banyak yang mengaji di sana. Saya pun juga mengajak adik saya untuk menuntut ilmu di sana. Walau hanya menggunakan rumah beliau sebagai tempat belajar, semua merasakan kenyamanan yang sama. Tidak hanya diajarkan membaca Al-Quran, semuanya juga diajarkan sopan santun, fikih, sejarah islam, dan masih banyak lagi.
Layaknya simbiosis mutualisme – saling menguntungkan. Itulah yang dapat digambarkan antara para siswa, orang tua dan Ust. Mustofa. Dalam hal ini, para siswanya mendapatkan banyak ilmu yang sangat bermanfaat, sedangkan Ust. Mustofa juga mendapat keuntungan dari kami. Beliau bisa dikatakan menjadi ustadz yang sedang naik daun. Setiap ada pengajian, beliau selalu menjadi tamu khusus. Ust. Mustofa juga telah mempunyai jadwal ‘manggung’, dimana setiap Rabu malam dan Sabtu malam beliau harus menghadiri pengajian. Belum lagi undangan-undangan pengajian lainnya yang bisa datang setiap ada acara. Sedangkan orangtua, mereka telah memberikan kepercayaannya kepada Ust. Mustofa terhadap anak-anaknya untuk belajar agama di sana.
Hingga saya SMP, muridnya pun semakin bertambah. Mulai dari anak SD hingga SMP pun ada. Karena rumahnya sudah bisa dikatakan overload untuk menampung siswa sebanyak itu, maka dibangunlah mushala. Ya, Ust. Mustofa beserta keluarga besarnya dengan bantuan para orang tua murid mampu mendirikan mushala dengan biaya sendiri di samping rumahnya. Namanya juga mushala, ukurannya tak sebesar masjid-masjid pada umumnya. Mushala tersebut dinamakan Wali Songo, karena ayahnya Ust. Mustofa mempunyai sembilan anak. Walau tak begitu besar, mushala ini bisa menampung siswa-siswanya untuk belajar dam beribadah.
Sistem belajar atau mengajinya pun juga semakin membaik dari tahun ketahun. Karena semakin banyak murid yang mengaji di sana sedangkan tenaga pengajarnya hanya Ust. Mustofa, istri, dan saudaranya, maka beberapa anak diberi kepercayaan untuk menyalurkan ilmunya kepada anak-anak SD, termasuk saya. Saya diberi kepercayaan untuk mengajari anak-anak SD membaca Iqro/Al-Quran. Banyak anak-anak yang harus saya ajari. Sebenarnya, maksud Ust. Mustofa sendiri adalah agar ilmu yang telah ia berikan bisa bermanfaat untuk orang lain. Jadi, ilmu yang telah saya terima haruslah diamalkan ke orang lain. Selain itu, setiap Ramadhan tiba, Ust. Mustofa sering mengadakan buka bersama. Tujuannya tak lain hanya untuk mempererat tali persaudaraan satu sama lain. Walau hanya kue atau makan makanan ringan yang diberikan secara ikhlas dari orang tua murid, semua tampak menikmatinya.
Di sana, para murid juga ditanamkan sikap terpuji, misalnya selalu bersyukur. Hal ini terlihat ketika salah seorang siswa mendapat juara kelas di sekolahnya, atau mendapat juara dalam sebuah perlombaan, Ust. Mustofa selalu mengadakan syukuran bersama. Semua anak ikut berdoa, berdzikir, bahkan terkadang mendapat makanan dari orang tua murid tersebut. Selain itu, sebelum ulangan/ujian sekolah tiba, Ust. Mustofa juga mengajak murid-muridnya untuk berdoa meminta petunjuk kepada-Nya agar diberikan kemudahan dalam menghadapi ujian. Kegiatan-kegiatan seperti itu mereka ikuti dengan antusias. Para orang tua murid juga merespon baik terhadap kegiatan seperti itu. Sedangkan program belajar yang dimiliki oleh Ust. Mustofa yang menurut saya bagus adalah kegiatan yasinan tiap rumah. Jadi, tiap dua minggu sekali, tepatnya Sabtu sore, Ust. Mustofa mengajak para muridnya untuk membaca surat Yasin dan dzikir bersama di salah satu rumah murid. Dua minggu berikutnya pindah ke rumah murid lainnya. Begitu pun seterusnya. Banyak hal yang dapat memotivasi saya dari apa yang Ust. Mustofa miliki. Pertama, keikhlasan hatinya yang patut saya segani. Tahukah Anda? Ust. Mustofa tidak pernah sekalipun meminta bayaran dalam mengajar murid-muridnya. Ia benar-benar ikhlas melakukan itu semua karena Allah semata. Mungkin Ust. Mustofa akan meminta uang hanya untuk keperluan mengaji, seperti membeli spidol. Kedua, kesabarannya yang tiada henti. Ia selalu sabra dalam segala kondisi. Saya pernah melihat Ust. Mustofa dalam keadaan yang benar-benar letih karena selepas pulang dari pengajian. Namun beliau tetap menjalankan amanahnya, yaitu mengajar murid-muridnya. Sebenarnya masih banyak lagi sikap-sikapnya yang patut dicontoh dalam membangun generasi muda saat ini menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak.
Karena saya melanjutkan SMA di Bogor, saya tidak bisa lagi membantu Ust. Mustofa mengajar lagi atau pun mengaji di sana. Walau demikian, tiap kali liburan, saya selalu sempatkan diri untuk mengunjunginya ataupun membantunya mengajar. Ust. Mustofa memang pernah perpesan kepada saya, jika sudah menjadi ‘orang’, jangan pernah lupakan semua orang yang telah membantumu.
Seperti layaknya di daerah-daerah lain di Indonesia, mata pencaharian masyarakatnya sebagian besar bertani. Mungkin hanya beberapa orang yang menjadi guru atau wiraswasta, termasuk ayah saya yang seorang guru SD. Namun mereka semua mempunyai pendirian yang sama – membekali anak-anaknya dengan ilmu agama. Tidak mengherankan jika sejak SD, bahkan TK, tiap sore banyak anak-anak yang mengaji. Anak-anak biasanya berangkat bersama menggunakan sepeda, sekitar pukul tiga sore. Ya, memang sebagian masyarakat di daerah saya beragama islam. Maka dari itu, di sana sangat mudah mencari mushala, masjid, bahkan pondok pesantren sekalipun.
Saat kelas I sampai dengan kelas III SD, saya termasuk anak yang bandel dalam urusan mengaji (belajar membaca Al-Quran). Saya sering berpindah-pindah TPA (Taman Pendidikan Al-Quran, tempat anak-anak belajar mengaji). Saya juga sering dimarahi oleh orang tua saya gara-gara saya sering absen atau malas mengaji. Itu semua karena saya tidak menemukan tempat yang cocok untuk belajar mengaji. Semua TPA mempunyai sistem yang tak beda jauh, dimana guru hanya menyimak murid-muridnya membaca Iqro (buku khusus untuk belajar membaca Al-Quran), kemudian hafalan doa sehari-hari. Karena ayah saya ingin agar saya cepat bisa membaca Al-Quran dengan lancar, ayah saya memutuskan agar saya belajar private. Belajar private di sini bukan berarti guru datang ke rumah dengan bayaran yang bisa di bilang wah, tapi saya sendiri yang datang ke rumah guru ngaji saya.
Namanya adalah Ust. Mustofa. Beliau adalah tetangga saya, walaupun rumahnya tak begitu dekat dengan rumah saya. Setahu saya, beliau adalah petani biasa. Namun beliau juga mengajar di pesantren dekat rumahnya. Wajar saja, Ust. Mustofa pernah belajar di salah satu pesantren yang ada di Pulau Jawa cukup lama, jadi pengetahuan agamanya sangat luas.
Mulai kelas IV SD, sekitar tahun 2005, saya mulai belajar mengaji dengan Ust. Mustofa. Dengan mengendarai sepeda, tiap malam saya datang ke rumahnya. Itu semua karena perintah ayah saya agar saya bisa membaca Al-Quran, bahkan mendalaminya. Ya, karena tak ada siswa lain, saya hanya sendirian. Di ruangan mungkin hanya ada Ust. Mustofa, Bu Itis (istrinya), Ima (anak sulungnya), dan saya. Saya berangkat sesudah Maghrib dan pulang sebelum Isya’. Walau belajarnya tak lebih dari satu jam, namun lebih efiseian karena jumlah siswanya yang hanya satu, bisa dibilang anak tunggal. Dan saya masih ingat betul ketika pertma kali Ust. Mustofa mengajarkan saya membaca surat Al-Fatihah – surat pertama dalam Al-Quran. Waktu itu saya akui kalau saya masih cacat dalam membaca Al-Quran. Perlahan-lahan saya mulai nyaman belajar mengaji di sana.
Setiap bulan siswanya selalu bertambah. Ini karena saya selalu mengajak teman-teman saya untuk ikut ngaji bersama di sana. Semakin hari terus semakin bertambah. Bukan hanya anak SD yang mengaji di sana, anak SMP pun juga banyak yang mengaji di sana. Saya pun juga mengajak adik saya untuk menuntut ilmu di sana. Walau hanya menggunakan rumah beliau sebagai tempat belajar, semua merasakan kenyamanan yang sama. Tidak hanya diajarkan membaca Al-Quran, semuanya juga diajarkan sopan santun, fikih, sejarah islam, dan masih banyak lagi.
Layaknya simbiosis mutualisme – saling menguntungkan. Itulah yang dapat digambarkan antara para siswa, orang tua dan Ust. Mustofa. Dalam hal ini, para siswanya mendapatkan banyak ilmu yang sangat bermanfaat, sedangkan Ust. Mustofa juga mendapat keuntungan dari kami. Beliau bisa dikatakan menjadi ustadz yang sedang naik daun. Setiap ada pengajian, beliau selalu menjadi tamu khusus. Ust. Mustofa juga telah mempunyai jadwal ‘manggung’, dimana setiap Rabu malam dan Sabtu malam beliau harus menghadiri pengajian. Belum lagi undangan-undangan pengajian lainnya yang bisa datang setiap ada acara. Sedangkan orangtua, mereka telah memberikan kepercayaannya kepada Ust. Mustofa terhadap anak-anaknya untuk belajar agama di sana.
Hingga saya SMP, muridnya pun semakin bertambah. Mulai dari anak SD hingga SMP pun ada. Karena rumahnya sudah bisa dikatakan overload untuk menampung siswa sebanyak itu, maka dibangunlah mushala. Ya, Ust. Mustofa beserta keluarga besarnya dengan bantuan para orang tua murid mampu mendirikan mushala dengan biaya sendiri di samping rumahnya. Namanya juga mushala, ukurannya tak sebesar masjid-masjid pada umumnya. Mushala tersebut dinamakan Wali Songo, karena ayahnya Ust. Mustofa mempunyai sembilan anak. Walau tak begitu besar, mushala ini bisa menampung siswa-siswanya untuk belajar dam beribadah.
Sistem belajar atau mengajinya pun juga semakin membaik dari tahun ketahun. Karena semakin banyak murid yang mengaji di sana sedangkan tenaga pengajarnya hanya Ust. Mustofa, istri, dan saudaranya, maka beberapa anak diberi kepercayaan untuk menyalurkan ilmunya kepada anak-anak SD, termasuk saya. Saya diberi kepercayaan untuk mengajari anak-anak SD membaca Iqro/Al-Quran. Banyak anak-anak yang harus saya ajari. Sebenarnya, maksud Ust. Mustofa sendiri adalah agar ilmu yang telah ia berikan bisa bermanfaat untuk orang lain. Jadi, ilmu yang telah saya terima haruslah diamalkan ke orang lain. Selain itu, setiap Ramadhan tiba, Ust. Mustofa sering mengadakan buka bersama. Tujuannya tak lain hanya untuk mempererat tali persaudaraan satu sama lain. Walau hanya kue atau makan makanan ringan yang diberikan secara ikhlas dari orang tua murid, semua tampak menikmatinya.
Di sana, para murid juga ditanamkan sikap terpuji, misalnya selalu bersyukur. Hal ini terlihat ketika salah seorang siswa mendapat juara kelas di sekolahnya, atau mendapat juara dalam sebuah perlombaan, Ust. Mustofa selalu mengadakan syukuran bersama. Semua anak ikut berdoa, berdzikir, bahkan terkadang mendapat makanan dari orang tua murid tersebut. Selain itu, sebelum ulangan/ujian sekolah tiba, Ust. Mustofa juga mengajak murid-muridnya untuk berdoa meminta petunjuk kepada-Nya agar diberikan kemudahan dalam menghadapi ujian. Kegiatan-kegiatan seperti itu mereka ikuti dengan antusias. Para orang tua murid juga merespon baik terhadap kegiatan seperti itu. Sedangkan program belajar yang dimiliki oleh Ust. Mustofa yang menurut saya bagus adalah kegiatan yasinan tiap rumah. Jadi, tiap dua minggu sekali, tepatnya Sabtu sore, Ust. Mustofa mengajak para muridnya untuk membaca surat Yasin dan dzikir bersama di salah satu rumah murid. Dua minggu berikutnya pindah ke rumah murid lainnya. Begitu pun seterusnya. Banyak hal yang dapat memotivasi saya dari apa yang Ust. Mustofa miliki. Pertama, keikhlasan hatinya yang patut saya segani. Tahukah Anda? Ust. Mustofa tidak pernah sekalipun meminta bayaran dalam mengajar murid-muridnya. Ia benar-benar ikhlas melakukan itu semua karena Allah semata. Mungkin Ust. Mustofa akan meminta uang hanya untuk keperluan mengaji, seperti membeli spidol. Kedua, kesabarannya yang tiada henti. Ia selalu sabra dalam segala kondisi. Saya pernah melihat Ust. Mustofa dalam keadaan yang benar-benar letih karena selepas pulang dari pengajian. Namun beliau tetap menjalankan amanahnya, yaitu mengajar murid-muridnya. Sebenarnya masih banyak lagi sikap-sikapnya yang patut dicontoh dalam membangun generasi muda saat ini menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak.
Langganan:
Postingan (Atom)
